0816335341
News

Gua Maria Sendang Sono

Gua Maria Sendang Sono

Awalnya, sebutan Sendangsono tidak untuk menyebut suatu nama tempat. Sendangsono merupakan sebutan untuk sumber air yang berada di bawah pohon Sono. Istilah Sendangsono merupakan gabungan dua kata, Sendang dan Sono. Sendang merupakan istilah Jawa untuk menyebut sumber air. Sono adalah nama sebuah pohon (baca: Angsana). Oleh karena itu, Sendangsono merupakan sebutan untuk mata air yang berada di bawah pohon Sono. Dulu, sebelum nama Sendangsono dikenal, orang sering menyebut sumber air itu dengan sumber Semagung. Dalam perkembangannya, orang mengenal dengan nama Sendangsono.

Wisata menggunakan rental mobil jogja

Jika menggunakan Jasa rental mobil jogja anda bisa menusuri  pegunungan Menoreh dan beralamatkan di Dusun Semagung, Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sendangsono berbatasan dengan Jawa Tengah kira-kira 30 km dari Kota Magelang dan 15 km sebelah selatan Muntilan.
Sendangsono sebagai tempat ziarah merupakan momentum peristiwa lahirnya Gereja (dibaca: umat katolik) di sekitar Kalibawang. Proses terbentuknya tempat ziarah ini berkaitan erat dengan perkembangan umat katolik di sekitar Kalibawang. Perkembangan umat katolik yang pesat mendorong lahir dan berkembangnya Sendangsono.
Sebelum menjadi tempat ziarah yang berciri katolik, sumber air di bawah pohon Sono dikenal sebagai tempat keramat. Konon, di tempat itu digunakan untuk semedi. Masyarakat sekitar yakin ada roh-roh yang berdiam di tempat itu. Menurut legenda, bila roh-roh terganggu, mereka akan mencelakai. Konon pula, di pohon Sono itu berdiam seorang ibu yang bernama Dewi Lantamsari dan anak tunggalnya Den Baguse Samijo. Dua makhluk itu menjadi  penguasa daerah itu.
Menurut dongeng kuna juga, sumber air Semagung juga digunakan sebagai tempat istirahat para bikshu yang mengadakan perjalanan dari Borobudur ke Boro atau sebaliknya. Dulu Boro dikenal sebagai biaranya para bikshu meskipun sekarang ini sudah tidak ada bekasnya. Memang bila dilihat dari jaraknya, sumber Semagung ini berada di tengah-tengah antara Borobudur dan Boro.
Pada tanggal 14 Desember 1904, sumber Semagung dipilih sebagai tempat untuk membaptis. Ketika orang-orang sekitar Semagung masuk agama katolik, sumber air Semagung digunakan untuk membaptis (baca: inisiasi masuk katolik) mereka. Tempat yang keramat itu diubah fungsinya. Sumber air Semagung tidak lagi diperlakukan sebagai tempat tinggal roh-roh tetapi digunakan sebagai untuk berjumpa dengan Tuhan.
Peristiwa baptisan itu menjadi awal mula lahirnya umat Katolik yang berciri Jawa. Dan Sendangsono menjadi monumen sejarah berdirinya umat Katolik di sekitar Kalibawang. Maka Sendangsono lahir karena umat Katolik lahir dan berkembang di sana.

GOA MARIA LOURDES SENDANGSONO

gua maria sendangsono

Tanggal 14 Desember 1904, sumber Sendangsono diberkati oleh Rama van Lith SJ. Sumber itulah yang digunakan untuk membaptis 173 orang di sekitar Sendangsono. Menurut keyakinan katolik air yang sudah diberkati menjadi air suci.
Pada tahun 1923, ketika berkarya di Boro dan sekitarnya, Rama JB. Prennthaler SJ mempunyai gagasan untuk menjadikan Sendangsono sebagai tempat suci karena airnya sudah diberkati. Beliau mengusulkan didirikan gua untuk bersemayam Bunda Maria yang tak bernoda. Bila Maria bertahta di Sendangsono, orang-orang dapat berdoa kepadanya untuk minta perlindungan. Gagasan ini disambut baik oleh penduduk sekitarnya.
Setelah mencapai kata sepakat, gagasan itu diwujudkan. Masyarakat bergotong royong mencari batu, pasir dan batu kapur. Gua dibangun bersama-sama secara bergotong royong. Patung Bunda Maria seberat 300 kg didatangkan dari Swiss dan diturunkan di Sentolo Wates Kulon Progo. Dari Sentolo sampai Sendangsono (kira-kira 30 km) dipikul bersama-sama.
Goa Maria Sendangsono diberkati pada tanggal 8 Desember 1929. Pemberkatan itu bertepatan dengan perayaan 75 tahun peresmian dogma Maria yang dikandung tanpa noda. Pada saat pemberkatan Rama JB. Prennthaler SJ mengatakan bahwa pendirian goa Maria Sendangsono merupakan wujud syukur atas perlindungan Bunda Maria pada karya misi di Kalibawang. Dengan demikian, Goa Maria Sendangsono merupakan monumen peringatan 25 tahun karya misi katolik di Kalibawang. Pada Peringatan 25 tahun karya misi katolik di Kalibawang ini, Paus Pius XI memberikan penghargaan kepada Bapak Barnabas Sarikrama atas jasanya dalam mengembangkan misi katolik di Kalibawang.

air baptisan pertama sendangsono
Goa Maria ini didirikan terutama untuk mengucapkan terima kasih atas karya Tuhan bagi umat Kalibawang. Maka dalam kotbahnya Rama JB. Prennthaler mengingatkan umat agar jangan mencari mukjijat di Sendangsono. Yang harus selalu dikumandangkan bila berziarah ke Sendangsono adalah mengucap syukur kepada Tuhan yang Mahaesa lewat Bunda Maria karena telah melimpahkan rahmat dan kemurahanNya kepada manusia. Dalam pemberkatan itu juga ada doa penyerahan yang didoakan oleh Rama FX. Satiman SJ: Ibu Maria yang murni di Kalibawang berkatilah dan lindungilah kami yang mengungsi ke hadapanmu
Untuk mendukung suasana religius di sekitar Kalibawang, Rama JB. Prennthaler SJ memberikan lonceng sebanyak 19 buah yang dibeli langsung dari Nederland. Lonceng-lonceng itu dibunyikan 3 kali pada jam 6 pagi, 12 siang dan 6 sore. Lonceng itu digunakan untuk menandai dan mengajak orang katolik berdoa. Saat ini beberapa lonceng sudah hilang.
Pada tahun 1958 dibangun stasi (baca: rumah-rumah kecil) sebanyak 14 buah. Stasi itu diberi arca jalan salib. Stasi itu dibangun dari Gereja Promasan sampai Sendangsono (jaraknya kira-kira 1 km). Pembangunan stasi itu digunakan sebagai sarana untuk membantu peziarah merenungkan hidupnya sekaligus persiapan untuk bertemu dengan Tuhan lewat perantaraan Bunda Maria.

ARSITEKTUR SENDANGSONO

Pembangunan Sendangsono dilakukan secara bertahap. Awalnya pembangunan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan agar layak sebagai tempat berdoa. Maka bangunan-bangunan yang dihasilkan juga bertahap. Pembangunan tahap pertama adalah goa, dilanjutkan dengan pembangunan stasi dan pembangunan kapel di samping goa. Sejak tahun 1958-1969, tidak ada data pembangunan dan keadaannya masih gersang.
Sejak 1969, Rama YB. Mangunwijaya Pr. terlibat dalam perancangan pembangunan Sendangsono. Melalui tangan Rama YB. Mangunwijaya Sendangsono menjadi tempat yang indah, asri, sejuk dan tenang untuk berdoa.
Pada awal pembangunannya, Rama Mangunwijaya Pr tidak membuat kerangka dan arah pembangunan (tidak ada grand design). Baru ketika Rama Mangunwijaya Pr meninggal (1996), bangunan-bangunan itu ditafsirkan dan ditemukan filosofi-filosofi tertentu.
Dengan memahami wastu citra Rama Mangunwijaya Pr, arsitektur Sendangsono dapat dipahami secara lebih komplit. Secara garis besar, gaya pembangunan Sendangsono menggunakan model rumah Jawa. Dalam tradisi Jawa bangunan rumah terdiri dari pelataran, rumah depan, tengah dan belakang. Masing-masing bagian mempunyai nilai dan fungsinya sendiri-sendiri.
Mirip dengan arsitektur gaya Jawa, arsitektur Sendangsono dibagi menjadi tiga bagian, yaitu jalan masuk, pelataran, dan daerah sakral.
Bagian jalan masuk ditandai dengan jalur jalan salib. Jalan salib ada dua jenis: panjang dan pendek. Jalan salib panjang terdiri dari 14 stasi yang ada di sepanjang jalur Gereja Promasan sampai Sendangsono. Sedangkan jalan salib pendek berada di kompleks Sendangsono bagian utara. Baik jalan salib panjang maupun pendek disediakan untuk membantu peziarah merenungkan diri dan mempersiapkan hati untuk berdoa. Secara filosofis, jalan salib menggambarkan perjalanan dan perjuangan hidup manusia dalam mencari dan mencapai kebahagiaan. Pada jalan salib pendek, stasi-stasi itu dihiasi dengan ornamen bunga mawar. Ornamen itu menggambarkan bahwa perjuangan manusia tidak akan sia-sia melainkan mendapatkan nilai yang sangat berharga.
Bagian pelataran merupakan tempat untuk istirahat dan perjumpaan antar manusia. Bagian pelataran ditandai dengan bangunan-bangunan rumah panggung. Bangunan-bangunan juga tidak diberi warna khusus. Warna dominannya coklat, hitam dan polos (tak berwarna). Rumah-rumah panggung digunakan untuk istirahat, refreshing, diskusi dan lain-lain. Pelataran disusun dengan model trap trapesium dan bukan trap bergaris. Filosofinya, pelataran merupakan tempat dialog. Dialog yang benar adalah dialog yang tidak mendasarkan pada strata sosial. Setiap orang mempunyai kedudukan yang sama. Maka, trap trapesium menunjang orang untuk berdialog secara setara.
Bagian sakral merupakan bagian yang pokok dari arsitektur Sendangsono. Bagian ini terdiri dari dua yaitu pelataran dan bagian sentral. Pada bagian sakral, pelataran diberi warna merah dan warna putih. Warna merah menggambarkan keberanian dan tanda Roh Ilahi. Sedangkan warna putih mencerminkan kesucian. Idealnya, setiap orang yang masuk pelataran yang berwarna merah dan putih menyesuaikan diri dan membangun sikap hening, tenang dan mengarahkan hati pada Tuhan. Pada bagian sentral ada bangunan Goa Maria dan Kapel Tri Tunggal Mahakudus (Kapel Trinitas). Bagian sentral merupakan ruang pertemuan antara manusia dengan Tuhannya melalui perantaraan Maria. Orang katolik menyakini Maria sebagai Ibu Yesus sekaligus dapat menjadi perantara syukur dan permohonan kepada Tuhan. Maria dihormati sebagai Ibu yang dapat menolong manusia yang ingin dekat dengan Tuhan.
Meskipun dibangun dalam konteks budaya Jawa, bangunan-bangunan Sendangsono tersebut mengaktualisasikan keyakinan iman kristiani. Bangunan-bangunan itu antara lain:
� Kapel Tri Tunggal Mahakudus. Model bangunan kapel Tri Tunggal Mahakudus adalah rumah joglo. Atapnya disusun menjadi tiga lapis. Tiga lapisan atap itu menggambarkan Tri Tunggal Mahakudus (Trinitas).
� Kapel Para Rasul. Bangunan ini berada di sebelah utara goa. Ciri bangunan: tiang terdiri dari tiga pilar, atapnya disangga oleh kerangka seperti ruji payung, ujung atap ada 12 sudut dan dibangun di pelataran yang dibuat dengan model kolosium romawi. Tiang tiga pilar mencerminkan pokok iman kristiani akan Allah Tri Tunggal. Kerangka penyangga mencerminkan eratnya hubungan antara Allah Tri Tunggal dengan para Rasul. Kehidupan para Rasul sangat bergantung pada penyangganya yaitu Allah. Atap terdiri dari 12 sudut untuk menggambarkan Rasul Yesus yang berjumlah 12 orang.
� Kapel Maria Bunda Segala Bangsa. Ciri bangunannya seperti lorong dan ditandai dengan tembok berbentuk lingkaran. Bangunan itu menggambarkan kerahiman dan ketulusan seorang Ibu. Harapannya Maria menjadi pelindung dan pengantara bagi segala bangsa untuk bertemu dengan Tuhan.
� Salib Milenium. Salip Milenium dipasang pada tahun 2000 sebagai tanda mulainya milenium ke tiga.

Gaya bangunan Sendangsono mendapatkan penghargaan dari Ikatan Arsitektur Indonesia. Penghargaan dikaitkan dengan kemampuan Rama YB. Mangunwijaya Pr membangun dengan memperhatikan kelestarian lingkungan lingkungan (ramah lingkungan).

Tagged: , ,

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *